Menyikapi Maraknya Kekerasan Seksual Berbasis Media Online, PSG Unej Gelar Diskusi

  • Whatsapp

Jember, Preposisi Dalam rangka menyikapi fenomena maraknya kekerasan dalam pacaran dan kekerasan berbasis media online, Pusat Stdu Gender Universitas Jember meenyelenggarakan diskusi online dengan tema “Penguatan Institusi Pendidikan untuk Mereduksi Kekerasan Seksual” pada Selasa, 28 Juli 2020 via Zoom dan youtube.

Diskusi online ini menghadirkan narasumber Dina Tsalist Wildana, SHI., LL.M., Akademisi Fakultas Hukum Universitas Jember dan Ni’mal Baroya,S.KM., M.PH., akademisi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember.

Dina Tsalist Wildana, SHI., LL.M. menyebutkan berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, bahwa di Indonesia di antara 10.847 pelaku kekerasan seksual terdapat 2.090 pelaku adalah pacar. Hal ini salah satunya disebabkan adanya superioritas dan relasi kuasa. Untuk mereduksi kekerasan seksual tersebut, institusi pendidikan perlu mengambil peran untuk mereduksi kekerasan seksual.Terjadi Hal ini ditegaskan oleh Ni’mal Baroya,S.KM., M.PH. bahwa sekolah juga harus bertanggung jawab atas terjadinya pelecehan seksual, salah satunya kekerasan dalam pacaran, yang terjadi di sekola bukan malah membiarkan atau bahkan mengeluarkan korban dengan dalih menjaga nama baik sekolah.

Dampak kekerasan dalam pacaran dan kekerasan berbasis online ini dapat dialami oleh semua orang, namun dampak yang dirasakan oleh perempuan jauh lebih parah mengingat perempuan mengalami bias gender yang cukup kental di masyarakat.

“Oleh karena itu perlu berbagi pengetahuan untuk membangun persepsi yang sama terkait penanganan kekerasan terhadap perempuan. Lebih lanjut lagi, semua elemen di masyarakat wajib membangun jaringandan bergerak bersama untuk mencegah dan menangani berbagai kasus kekerasan” demikian ditegaskan oleh Dr. Linda Dwi Eriyanti, S.Sos, MA.

PSG UNEJ melaksanakan diskusi online ini sebagai bentuk kepedulian Universitas Jember dalam membangun keadilan gender, mencegah serta menangani kasus kekerasan, untuk mengkontruksi tradisi tanpa kekerasan di masyarakat. Harapannya, mewujudkan institusi pendidikan sebagai salah satu pusat untuk mereduksi kekerasan seksual.

Related posts